Sabtu, 02 November 2013

AQSAMUL AL QUR’AN


PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam menghadapi kebenaran1 dan agama, manusia itu berbeda dalam cara menerima, menghayati, dan mengamalkannya Bagi orang yang bersih jiwanya dan tidak dikotori hawa nafsunya, mereka siap menerima kebenaran agamadengan mudah, lancer, serta insaf. Mereka tidak membutuhkan argumentasi, teori muluk-muluk, bukti-bukti, maupun ucapan – ucapan yang diperkuat dengan taukid atau sumpah. Sebaliknya, bagi orang yang jiwanya dikotori hawa nafsu, kebatilan dan tipuan setan, mereka tida akan mau menerima kebenaran agama. Mereka menerima kebenaran agama setelah jiwanya dimasuki bentuk – bentuk ungkapan yang menenangkan jiwa, baik diberi penguat (taukid) ataupun sumpah ( qosam ).
 1.2 Rumusan Masalah
 1. Apakah pengertian dari  Aqsam ?
2. Sebutkan unsur – unsur Aqsam !
3. Sebutkan sighat Aqsam !
4. Sebutkan jenis –dari Aqsamul AL-Quran !
5. Sebutkan hukum – hukum Aqsam !
6. Sebutkan manfaat dan tujuan dari Aqsamul AL-Quran !
 1.3 Tujuan
 Dalam substansinya sumpah dilakukan untuk memperkuat pembicaraan agar dapat diterima atau dipercaya oleh pendengarnya
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Aqsamul Quran
Secara bahasa أقسام merupakan bentuk plural dari kata قسم (qasam) yang berarti sumpah. Namun pada dasarnya, kata qasam berasal dari akar kata dengan huruf-huruf ق ، س ، م yang memiliki dua makna dasar, yaitu indah dan baik, serta bermakna membagi sesuatu.
Dalam bahasa Arab, setidaknya ada tiga kata yang sering dimaknai dengan sumpah yaitu, al-qasam, al-hilf dan al-yamin. Telah menjadi maklum di kalangan peneliti bahasa bahwa penelitian induktif secara menyeluruh menampik adanya sinonimitas antara keduanya. Dengan kata lain, ikhtilaf al-alfazhi yujibu ikhtilaf al-ma’ani (perbedaan kosa kata mengharuskan perbedaan makna), artinya setiap kata yang sering diartikan sama pada dasarnya memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain.
Berdasarkan hal tersebut, dapat dipahami bahwa kata qasam memiliki makna yang lebih luas dan lebih lengkap bahkan lebih mendalam dibandingkan dengan makna al-hhilf. Karena, kata al-hilf lebih dibatasi pada makna yang meragukan sedangkan kata qasam bermakna sumpah dalam arti yang lebih umum.
Dari perbedaan ketiga istilah sumpah yang disebutkan di atas, penulis melihat bahwa penggunaan istilah qasam atau aqsam al-Quran bukan al-hilf dan al-yamin karena kata qasam di samping memiliki makna yang lebih luas juga konotasinya positif sesuai dengan makna dasarnya indah dan baik, sehingga istilah tersebut berindikasi pada sumpah-sumpah yang disebutkan atau yang terdapat di dalam al-Quran memiliki nilai dan tujuan yang baik.
Adapun sumpah menurut istilah adalah sebuah pernyataan yang menguatkan dan menegaskan sesuatu dengan menyebutkan nama Allah atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sumpah juga diartikan sebagai sebuah pernyataan yang mengikat seseorang untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu. Ia juga dapat dimaknai sebuah pernyataan yang dapat memperkuat sebuah berita.
Lain lagi dengan Mardan, menjelaskan bahwa aqsam al-Quran berdasarkan beberapa pengertian yang ditawarkan ulama adalah sumpah-sumpah yang dinyatakan oleh Allah dalam al-Quran, baik yang diperbuat atau tidak diperbuat terhadap sesuatu perbuatan yang diperkuat dengan kata-kata sumpah (adawat al-qasam) sesuai dengan ketentuan syara’. (yang dalam kurung dan garis miring adalah dari penulis).
Demikian pula dengan Manna’ al-Qaththan, ia membatasi sumpah pada aspek dilakukan dan tidak dilakukannya suatu perbuatan. Hal ini pun berbeda dengan tujuan dan fungsi sumpah dalam al-Quran. Karena sumpah dalam al-Quran tujuannya adalah untuk memperkuat atau menegaskan al-muqsam ‘alaihi (maksud yang diinginkan diperkuat atau sasaran sumpah) di dalam hati seorang hamba agar ia dapat yakin dengan seyakin-yakinnya.
Untuk menyelesaikan “kebingungan” tersebut, penulis tertarik dengan defenisi ahli Nahwu yang dikutip oleh al-Zarkasyi di atas kemudian menggabungkan dengan beberapa defenisi yang lain, apatah lagi Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah sebagai salah seorang ulama yang menulis sebuah kitab khusus berbicara tentang sumpah di dalam al-Quran yaitu “al-Tibyan fi Aqsam al-Quran” tidak menjelaskan defenisi qasam itu secara rinci, tetapi ia hanya menyebutkan substansi dari sumpah atau qasam tersebut. Oleh karena itu, penulis berkesimpulan bahwa aqsam al-Qur’an adalah sumpah-sumpah yang dinyatakan oleh Allah di dalam al-Quran untuk memperkuat suatu berita, baik yang menggunakan kata-kata sumpah dan atau huruf-huruf taukid maupun sumpah yang dipahami dari segi maknanya”.
2.2. Unsur-unsur Qasam                                                                                     
            Bentuk atau shighat qasam yang asli terdapat dalam surat An-Nahl ayat:38
            Bentuk-bentuk qasam yang asli terdiri dari tiga unsur, yaitu:
1.      Harus ada fi’il qasam yang dimuta’addikan dengan huruf “ba’”, seperti”
2.      Harus terdapat muqsam bih atau penguat sumpah, yaitu sumpah itu harus diperkuat dengan sesuatu yang diagungkan oleh yang bersumpah.
3.      Harus ada muqsam alaih (berita yang diperkuat dengan sumpah itu), yaitu berupa ucapan yang ingin diterima atau dipercaya oleh orang yang mendengar, lalu diperkuat dengan sumpah tersebut.
2.3 Sighat-shighat aqsamil quran.
·         Sighat pertama : bentuk asli
Sebagaimana sudah disebutkan bahwa sighat ( bentuk) yang asli dalam sumpah itu ialah bentuk yang terdiri dari 3 unsur, yaitu fi’il sumpah yang di muta’adikan dengan ”ba” muqsam bih dan muqsam alaih, seperti dalam contoh – contoh diatas.
Kemudian fi’il hyang dijadikan sumpah itu bisa lafal aqsamu, ahlifu, atau asyhidu yang semuanya berarti ” sya bersumpah”.
·         Sighat kedua : ditambah huruf La
Kebiasaan orang yang bersumpah itu memakai berbagai macam bentuk, yang berarti merupakan sighat-sighat yang tidak asli lagi selain yang seperti disebutkan diatas.
Sighat ketiga: ditambah kata qul bala
·         Kadang – kadang sighat qasam dalam alquran itu ditambah dengan kata-kata qulbala.tambahan kata “qul bala” itu adalah untuk melengkapi ungkapan kalimat yang sebelum nya.sighat ini adalah untuk menambah atau menyanggah keterangan yang tidak benar.
·         Sighat ke empat: ditambah kata – kata Qul liy
Kadang – kadang sumpah dalam alquran itu ditambah dengan kata – kata “ Qul liy “ yang berarti benar. Contohnya seperti dalam ayat 53 surat yunus.            

 2,4. Jenis-Jenis Aqsamul Qur’an

            Dilihat dari segi fi’ilnya, qasam al-Qur’an ada dua macam. Yaitu.
   1.      Qasam Dzahir, yaitu qasam yang fi’il qasamnya disebutkan bersama dengan muqsam bihnya. Contoh: surat Al-Ma’arij:40, surat Al-Qiyamah:1-3.
   2.      Qasam Mudhmar(qasam tersimpan) yaitu qasam yang fi’il qasam dan muqsam bihnya tidak disebutkan, karena kalimat sebelumnya terlalu panjang. Contoh: surat Ali Imran:186
            Apabila qasam ditinjau dari muqsam bihnya, maka qasam itu ada tujuh macam, yaitu:
         1.        Qasam dengan menggunakan dzat Allah swt. contoh: surat Al-Hijr:92
         2.        Qasam dengan perbuatan-perbuatan Allah swt. contoh surat Asy-Syams:5
         3.        Qasam dengan yang dikerjakan Allah. Contoh surat Ath-Thur:1
         4.        Qasam dengan malikat-malaikat Allah. Contoh surat An-Nazi’at:1-3
         5.        Qasam dengan nabi Allah swt., seperti surst Al-Hijr:72
         6.        Qasam dengan makhluk Allah. Contoh surat At-Tin:1-2
         7.        Qasam dengan waktu. Contoh surat Al-Ashr:1-2


 2.5   Hukum Aqsam (sumpah)
Sebagian ulama mengatakan, bahwa sumpah-sumpah itu semuanya adalah makruh, dan dimakruhkannya itu secara mutlak, sebagaimana  firman Allah SWT : 

وَلاَ تَجْعَلُواْ اللَّهَ عُرْضَةً لِّأَيْمَانِكُمْ 224
“Dan janganlah kamu jadikan [nama] Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang”. [Qs. Al-Baqarah (2) : 224].  
Namun pendapat ini dibantah dengan perbuatan Nabi SAW, bahwasannya beliau pernah bersumpah, dan di antara sumpah Nabi SAW yang pernah dilakukannya adalah “Wahai umat Muhammad, demi Allah jika seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui sungguh niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa”. [HR. bukhari].
Jika seandainya benar sumpah itu dimakruhkan, niscaya Nabi SAW dahulu adalah orang yang paling menjauhi dari sumpah [orang yang paling menghindari untuk tidak melakukan sumpah]. Dan karena sumpah itu dengan menyebut “Billahi” tentu ini adalah sebagai pengagungan bagi Allah SWT, maka jelas dalam hal ini pahala bagi orang yang bersumpah. Adapun mengenai firman Allah SWT :
وَلاَ تَجْعَلُواْ اللَّهَ عُرْضَةً لِّأَيْمَانِكُمْ

“Dan janganlah kamu jadikan [nama] Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang”. Itu maksudnya : Janganlah kalian menjadikan sumpah-sumpah kalian dengan menyebut nama Allah ["Billahi"], untuk melarang kalian berbuat kebaikan, ketakwaan, perbaikan [ishlah] di antara manusia, yaitu bersumpah dengan menyebut [nama] Allah SWT untuk tidak berbuat kebaikan, ketakwaan, perdamaian, kemudian menolak terhadap apa yang telah dinyatakan untuk berbuat baik dalam sumpahnya dan juga tidak mau membatalkannya dalam sumpahnya, maka datang ayat melarang untuk berbuat yang demikian.

1. Sumpah Wajib
Sumpah ini adalah sumpah yang dilakukan sebagi jalan untuk membebaskan kema’suman darah dari kehancuran dan bahaya, meskipun digunakan dalam sumpahnya at-tauriyah, dalil yang menunjukannya adalah: Hadits Suwaid bin Handhalah, ia berkata : “Kita keluar ingin bertemu Rasulullah SAW dan bersama kita Wail bin Hujrin, ia ditangkap oleh orang yang memusuhinya, orang-orang [kaum] menekankan untuk bersumpah, maka aku bersumpah, bahwa Wail itu adalah saudaraku akhirnya Wail dilepaskan, kemudian kita mendatangi Rasul SAW dan memberitahunya apa yang baru saja terjadi, bahwa suatu kaum menekannya uintuk bersumpah lalu aku bersumpah bahwa Wail adalah saudaraku, maka Rasul SAW berkata : Benar kamu, orang muslim itu saudaranya  muslim”.

2. Sumpah Mandub [yang dianjurkan]
Yaitu sumpah yang berhubungan dengan kemaslahatan, dari mendamaikan antara dua orang yang bertikai, atau menghilangkan rasa dengki dari hati seorang muslim terhadap kedengkian, atau yang lainnya, atau menahan suatu kejahatan. Ini adalah jenis sumpah yang mandub [yang dianjurkan], karena mengerjakan hal-hal itu adalah sesuatu yang dianjurkan, maka sumpahnyapun mandub.
3. Sumpah Haram
Yaitu sumpah dusta, Allah SWT mencelanya dengan firman-Nya : 
وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (14 (
“Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedangkan mereka mengetahui”. [Qs. Al-Mujadilah (58) : 14]. Karena dusta itu haram, apabila digunakan dalam sumpah [Al-Mahluf 'Alaih], maka akan lebih dahsyat dalam pengharamannya.
Namun kadang-kadang dusta dibolehkan atau bahkan diwajibkan pada beberapa kondisi, yakni apabila dusta dipastikan dapat dijadikan jalan untuk membebaskan dari pembunuhan secara dhalim. Sebagaimana jika ada orang yang bersembunyi dan ia tidak bersalah, dan bersembunyi pada seseorang yang tahu bahwa dia tidak bersalah,  apabila ada seseorang yang dhalim menanyakan tentang orang itu dan mau membunuhnya, maka boleh bagi orang yang rumahnya dijadikan tempat persembunyiannya untuk mengingkari keberadaannya di rumahnya, walaupun sebenarnya orang yang dicari itu ada di rumahnya, dan ini adalah pengingkaran dusta.             
Demikian perbuatan dusta semacam itu diizinkan dan dibolehkan secara syar’i, bahkan diwajibkan karena dalam dusta itu terdapat penyelamatan orang yang tidak berdosa dari pembunuhan. Apabila dusta dibolehkan terhadap sesuatu dan bahkan diwajibkan, maka dibolehkan dan bahkan diwajibkan pula bersumpah terhadap sesuatu itu. Kapan dusta itu menjadi boleh atau bahkan wajib, telah kami beri contoh dengan suatu contoh yang diambil dari perkataan syeikh Al-’Izz ibnu Abdus-Salam, beliau Rahimahullah mengatakan : Dusta itu merusak dan haram kecuali dalam dusta itu mendatangkan kemaslahatan dan menolak kerusakan, maka terkadang dibolehkan bahkan diwajibkan.

Contohnya : Seseorang merasa khawatir terhadap seseorang yang bersembunyi di rumahnya itu sedang dicari oleh orang dhalim yang mau memotong tangannya kemudian menanyakannya tentang orang itu, lalu ia menjawab : Saya tidak tahu, padahal ada orang yang ditanyakannya itu di dalam rumahnya. Dusta semacam ini lebih utama dari kejujuran karena terdapat di dalamnya kemaslahatan yaitu melindungi anggota badan yang lebih besar dari kemaslahatan kejujuran yang tidak membahayakan dan juga tidak bermanfaat.
Diqiyaskan terhadap apa yang dikatakan ibnu Abdus-Salam, bersumpah dusta dalam rangka membebaskan seorang perempuan dari orang yang berbuat kejahatan kepadanya, kemudian perempuan itu bersembunyi di rumah seseorang, lalu orang itu bersumpah saat ditanya tentang perempuan itu dan mengatakannya,bahwasannya ia tidak ada dirumahnya dalam rangka untuk membebaskannya dari orang yang ingin berbuat jahat kepadanya.
4. Sumpah Makruh
Yaitu sumpah terhadap perbuatan makruh atau meninggalkan perbuatan yang mandub [yang dianjurkan], Allah SWT berfirman :
 
وَلاَ تَجْعَلُواْ اللَّهَ عُرْضَةً لِّأَيْمَانِكُمْ أَن تَبَرُّواْ وَتَتَّقُواْ وَتُصْلِحُواْ بَيْنَ النَّاسِ… (224)
“Janganlah kamu jadikan [nama] Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia”. [Qs. Al-Baqarah (2) : 224]. Artinya janganlah kalian menjadikan [nama] Allah dalam sumpah kalian sebagai penolak di antara kalian untuk berbuat kebajikan,
yang berupa kebaikan, ketakwaan dan ishlah di antara manusia, dengan kalian bersumpah dengan nama-Nya dalam rangka untuk meninggalkan amal-amal kebajikan padahal dengan meninggalkannya berarti meninggalkan pengagungan terhadap nama-Nya. Termasuk sumpah yang dimakruhkan adalah sumpah dalam jual beli (perdagangan), nabi SAW bersabda : “Sumpah itu melariskan barang dagangan tapi menghilangkan kebarokahan.

5. Sumpah Mubah
Sumpah mubah yaitu sumpah terhadap perbuatan yang mubah atau meninggalkannya, atau sumpah terhadap berita tentang sesuatu yang dapat dipercaya atau diduga dapat dipercaya
  1. Syarat-syarat orang yang bersumpah
Disyaratkan pada orang yang bersumpah adalah harus dewasa [baligh] dan berakal, baik laki-laki maupun perempuan, dan harus sengaja melakukan sumpah atas dasar kehendak sendiri tanpa adanya paksaan. Tidak sah dan tidak berlaku sumpah dari seorang anak kecil atau orang gila dan orang yang sedang tidur, berdasarkan hadits yang mulia, Rasulullah SAW bersabda : “Diangkat pulpen dari tiga perkara : Dari anak kecil hingga dewasa [baligh], dari orang gila hingga sadar dan orang tidur hingga bangun dari tidurnya”. Demikian juga tidak sah sumpahnya orang yang mabuk, karena orang yang mabuk hilang akalnya, maka menjadi seperti orang yang gila, ini adalah pendapat madzhab Adh-Dhahiri dan ulama-ulama yang sependapat dengannya.
  1. Sumpah orang yang dipaksa
Tidak sah dan tidak berlaku sumpahnya orang yang dipaksa, ini adalah pendapat Hanabilah dan Adh-Dhahiriyyah, dan termasuk pendapatnya madzhab imam Malik dan Asy-Syafi’i Rahimahumallahu Ta’ala. namun menurut imam Abu Hanifah Rahimahullahu Ta’ala, mengatakan : Sah dan berlaku sumpahnya seorang yang dipaksa karena sumpah orang yang dipaksa adalah sumpahnya orang mukallaf, maka sumpahnya berlaku sebagaimana sumpahnya orang yang melakukannya dengan kehendak sendiri tanpa ada paksaan.
Hujjah jumhur fuqaha untuk menguatkan pendapatnya adalah hadits yang disebutkan oleh pengarang kitab “Al-Mughni” imam ibnu Qudamah Al-Hambali dan pengarang kitab “Al-Muhadzdzab” Al-Faqih Asy-Syirozi Asy-Syafi’i, yaitu hadits yang diriwayatkan Abu Umamah dan Wail bin Al-asqa’ bahwa Rasul SAW bersabda:
“Tidak sah sumpah atas orang yang dipaksa”. Karena sumpah orang yang dipaksa tidak timbul dari dirinya berdasarkan kehendak sendiri (dalam hatinya), melainkan dibebankan untuk bersumpah dengan cara yang tidak benar (dipaksakan), maka tidak sah sumpahnya sebagaimana kalau dipaksakan untuk mengucapkan kata-kata kafir.
Demikian pula Adh-Dhahiriyyah yang bsependapat jumhur, berhujjah dengan bahwa ucapan seorang yang dipaksa, yaitu sesuatu yang dipaksakan atas dirinya, sesunguhnya ia mengucapkan lafadh yang diperintahkan kepadanya untuk diucapkan dengan paksaan, maka tidak ada masalah bagi orang yang mengucapkannya itu. Dan juga hadits Nabi SAW yang berbunyi :“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niat-niatnya, dan sesungguhnya demikian pula setiap orang tergantung dari apa yang diniatkannya”

2.6   Manfaat dan Tujuan Aqsamul Qur’an
Tujuan qasam
Dalam substansinya sumpah dilakukan untuk memperkuat pembicaraan agar dapat diterima atau dipercaya oleh pendengarnya. Sedang sikap pendengar sesudah mendengar qasam akan bersikap salah satu dari beberapa kemungkinan di bawah ini:
   1.      Pendengar yang netral, tidak ragu dan tidak pula mengingkarinya. Maka pendengar yang seperti ini akan diberi ungkapan ibtida’ (berita yang diberi penguat taukid ataupun sumpah) contoh surat Al-Hadid:8.
Penguat dalam ayat ini hanya diperkuat oleh lafadz Qod
   2.      Pendengar mengingkari berita yang didengar. Oleh karenanya berita harus berupa kalam ingkari (diperkuat sesuai kadar keingkarannya). Bila kadar keingkarannya sedikit, cukup dengan satu taukid saja. Contoh surat An-Nisa’:40. Sedang apabila kadar keingkarannya cukup berat, maka menggunakan dua taukid (penguat). Seperti surat Al-Maidah:72.
Dalam ayat di atas diberi dua taukid berupa lafadz Qoddan Lam taukid.Dan apabila kadar keingkarannya sangat berat, ditambah dengan beberapa taukid. Seperti surat Al-Anbiya’:
   3.      Apabila berita itu sampai pada pendengar dan dia tidak menolak, tentunya berita tersebut dapat diterima dan dipercaya. Karena telah diperkuat dengan sumpah apalagi dengan menggunakan kata Allah swt.
   4.      Bahwa pembawa berita akan merasa lega, karena telah menyampaikan berita dengan diperkuat sumpah atau dengan beberapa taukid (penguat). Hal ini sangat berbeda apabila membawa berita dengan tidak menggunakan qasam.
Dengan bersumpah memakai nama Allah atau sifat-sifat-Nya, maka hal ini sama dengan mengagungkan Allah swt karena telah menjadikan namanya selaku dzat yang diagungkan sebagai penguat sumpah.
                       PENUTUP

3.1  Kesimpulan
1.      Pengertian qasam menurut bahasa adalah sumpah
Sedang Qasam menurut istilah adalah mengaitkan jiwa untuk tidak melakukan sesuatu perbuatan, atau untuk mengerjakannya, yang diperkuat dengan sesuatu yang diagungkan bagi orang yang bersumpah, baik secara nyata atau secara keyakinan saja.
2.      unsur yang harus dipenuhi dalam qasam:
      a.       Harus  ada fi’il qasam
      b.      Harus terdapat muqsam bih
      c.       Harus ada muqsam ‘ alaih
3.      secara garis besar, Aqsamul Qur’an terbagi menjadi dua jenis:
      a.       Qasam Dzahir, yaitu qasam yang fi’il qasamnya disebutkan bersama dengan muqsam bihnya
      b.      Qasam Mudhmar (qasam tersimpan) yaitu qasam yang fi’il qasam dan muqsam bihnya tidak disebutkan
4.      Sighat Aqsamil Qur’an
            a.       Bentuk Asli: bentuk sumpah yang terdiri dari tiga unsur yang telah disebutkan
      b.      Bentuk sumpah yang ditambah dengan huruf “ Ba “
      c.       Bentuk sumpah yang ditambah dengan kata-kata “ La “
5.     Hukum Aqsam
      a.       Wajib
      b.       Mandub
      c.       Haram
      d.       Makruh
      e.      Mubah
6.      Manfaat Qasam
            a.       Mempertegas dan memperkuat berita yang sampai kepada pendengar.
b.      Memberikan nilai kepuasan kepada pembawa berita yang telah menggunakan Qasam
 
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Djalal,Dunia Ilmu Jl.Karawang Menur v/24 Surabaya,1998,hal 345     
 Fahmi uyp .com 2012/10/ulumul quran.html
 W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN Balai Pustaka,Jakarta                     1984,hlm.974.Al-Qaththan, op cit., hlm. 290. Ibid., hlm. 293

Ditulis Oleh Ali Ahmad Badawi Syamsuri (201386010006)

1 komentar:

  1. assalamualaikum,,kak ijin copy buat tugas yaa,,,,terimaksih yaa..

    BalasHapus